CERITA PENDEK

 TIKUS

OLEH: MULYANTO,TE

Sudah hampir seminggu ini Mang Kobet dipusingkan dengan keberadaan tikus di rumahnya.Dongkol,marah,sedih bercampur aduk membuat darah tingginya kambuh.Hampir setiap hari ia berurusan dengan tikus.Bagian belakang lemari makannya telah berlubang dikerat binatang  itu.Sehingga tidak lagi aman ia menyimpan makanan  di lemari tersebut.Padahal lemari tersebut dibeli belum lama,kira-kira sebulan yang lalu.Tentunya dengan cara kredit, karena penghasilannya sebagai buruh dodos di kebun sawit Pak Haji tidak mengijinkannya membeli tunai barang penting tersebut.

Berbagai cara telah  ia upayakan untuk mengusir binatang pengerat tersebut dari rumahnya. Mulai dengan memburunya, memasang jepretan penjebak tikus sampai memelihara kucing telah dilakukan.Namun kelihatannya tikus tersebut cerdik.Setiap Mang Kobet siap memburu dirinya,maka ia tidak pernah nampak keluar dari sarangnya.Hanya suara mencicitnya saja yang kedengaran menjengkelkan.Seakan-akan mengejek Mang Kobet yang menunggu lama di depan lubang sarang di lantai pojok dapur rumahnya.

Pernah suatu ketika Ia memburu tikus sialan tersebut dengan menggali lubang sarangnya. Namun begitu cangkulnya hampir mencapai dasar sarang,tikus tersebut keluar berlari ke arah kaki isterinya.Kontan saja isterinya berteriak-teriak histeris jijik dan ketakutan sambil menggedrug-gedrugkan kakinya.Anaknya yang mengejar-ngejar dengan pentungan tak mampu membunuh tikus tersebut.Bahkan sehari kemudian terdengar suara gedubrak tikus yang berlarian di plafon rumah.Kelihatannya tikus tersebut berpindah sarang dengan anak-anaknya ke plafon rumah Mang Kobet.

Adalah tetangganya yang menyarankan untuk memasang penjepret tikus yang diberi umpan makanan yang disukai tikus.Maka dibelinya sebuah penjepret tikus ketika ia pergi ke pasar.Begitu sampai di rumah segera dipasangnya umpan pada penjepret tersebut dan ditempatkannya di bawah lemari makan yang sering dijarah tikus tersebut.Namun sampai umpan di atas penjepret tersebut membusuk tak sekalipun tikus menyentuhnya.Pernah suatu malam penjepret tikusnya berbunyi”Jpreet...!!!”.Bergegas ia setengah berlari untuk menengok jebakan tikus tersebut,namun betapa kecewanya ia melihat bukan tikus yang kejepit jebakan tersebut tetapi kaki anak kucing kesayangan anak perempuannya yang meronta-ronta sambil mengeong keras sekali.

Suatu hari Mang Kobet ketemu temannya yang seorang sarjana biologi lulusan universitas kenamaan.Ia mengadukan soal tikus di rumahnya.Temannya tersebut menyarankan agar Mang Kobet memelihara kucing di rumahnya,karena kucing adalah musuh alami bangsa tikus.Mengikuti saran teman tersebut,maka Mang Kobet bersama anak perempuannya segera ke rumah adiknya yang  hobi memelihara kucing.Di rumahnya ada tiga kucing betina yang setiap ekornya beranak tiga atau empat ekor.Ia meminta seekor kucing kepada adiknya.Dan adiknya,yang memang sudah keberatan dengan banyaknya kucing beranak pinak di rumahnya,dengan senang hati mempersilakan kakaknya tersebut memilih sendiri.Maka segera ditangkapnya seekor kucing belang putih kuning dan dimasukkan ke dalam kerangkeng yang dibawa anak perempuannya yang dengan gembira menerima kucing tersebut sebagai ganti anak kucing yang kakinya pincang kena jepret jebakan tikus yang lalu.

Kucing yang didapatkan dari adiknya tersebut oleh Mang Kobet dipelihara dengan baik.Diberinya makanan bergizi tinggi dengan harapan kucing tersebut sehat dan mampu berburu tikus sampai ke cicit-cicitnya(saking banyaknya anak-anak tikus di rumahnya).Anak perempuannya pun rela memberikan jatah susunya kepada kucing tersebut.Maka kucing tersebut tumbuh dan berkembang menjadi gemuk dan sehat karena banyak makan makanan bergizi.Namun harapan agar ia berburu tikus jauh dari keadaan yang ditemuinya.Kucing tersebut justru menjadi manja tak mau kerja.Mirip dengan anak-anak orang kaya di Indonesia,yang sejak dalam kandungan sudah disiapkan rumah dan mobil mewah .Sehingga begitu lahir dan tumbuh berkembang menjadi dewasa tak lagi kekurangan harta.Tak lagi sibuk-sibuk membuat berkas lamaran kerja.Tumbuh menjadi pribadi manja dan egois.Maunya menang sendiri.Tak hendak tersaingi.

Lama kelamaan Mang Kobet makin tak menyukai kucing tersebut.Mau ia membuangnya,tetapi setiap ia bersiap mau membuangnya ,anak perempuannya menangisinya dengan tangisan keras seperti orang-orang yang kematian orang tuanya,atau bahkan lebih menyedihkan lagi.Pada akhirnya Mang Kobet harus mengalah.Meskipun dalam hatinya jengkel dengan perilaku kucing manja itu.Hanya mengurangi jatah makan kucing itu saja yang dapat ia lakukan sebagai pelampiasan rasa marah dan dongkol hatinya.

Sampai suatu hari terjadi peristiwa yang membuat darah di kepalanya mendidih.Kemarahannya memuncak tak lagi bisa ditahan-tahan.Burung murai kesayangannya yang selama ini dia siapkan untuk mengikuti lomba burung berkicau tingkat kabupaten ditemukannya tinggal kepala dan sepotong kakinya tergeletak di lantai.Sementara si kucing manja terlihat sedang menyantap tubuh burung tersebut dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.Mirip dengan para koruptor di negeri ini yang meskipun sudah terbukti bersalah mencuri uang negara masih juga bisa tertawa melambaikan tangan ketika wartawan-wartawan meliput beritanya.

Marah,jengkel,sedih dan bingung yang selama ini ditahan dalam hati kini bergelora bagai tsunami Aceh yang menyapu bersih kehidupan rakyat Aceh yang sudah menderita kemiskinan dan keterbelakangan akibat ditetapkannya sebagai DOM.Saking jengkel dan marahnya,Mang Kobet sampai gemetar seluruh badannya.Gemerutuk gigi-giginya beradu.Lalu tiba-tiba kakinya melayang sekencang-kencangnya ke arah tubuh si kucing yang sedang asyik menikmati daging burung kesayangan Mang Kobet tersebut.

“Kurang ajar kucing sialan tak tahu diuntung....,nih rasakan..!!”ujar Mang Kobet berteriak keras.

“Bukkk!!! Kedubrakkk!!!”.

Kucing tersebut terpental jauh jatuh mengenai tiang rumah mengeong keras lalu berlari keluar ruang berusaha menyelamatkan diri dari kemurkaan dan kemarahan memuncak Mang Kobet.Anak perempuannya yang menangis tak dihiraunya.Kemarahannya benar-benar  telah sampai di ubun-ubun.Maksud hati mau membasmi tikus dengan memelihara kucing,malah ia kehilangan daging dan burung kesayangannya.

Didorong oleh kemarahan dan rasa putus asa akhirnya Mang Kobet memutuskan akan membasmi tikus-tikus di rumahnya  denngan racun.Namun ia  masih harus bersabar karena uang untuk membeli racun tikus sudah terlanjur dipakai isterinya untuk  uang muka kredit baju  baru untuk anak perempuannya.Yah....,itung-itung memberi kompensasi atas kucingnya yang  pergi tak pernah kembali ke rumah setelah menerima tendangan maut Mang kobet.

Hari sabtu bulan itu Mang Kobet gajian.Sebagai tukang dodos sawit ia digaji borongan.Itulah sebabnya jika ia sakit yang tak terlalu parah masih memaksakan diri tetap bekerja,sebab bila sehari saja ia tidak bekerja maka penghasilannya akan dipotong sejumlah hari yang ditinggalkan.Pernah suatu ketika Mang Kobet sakit agak serius dan harus dirujuk ke rumah sakit di kabupaten.Meskipun biaya pengobatannya ditanggung perusahaan tempat ia kerja,tetap saja dapur isterinya hanya bisa berasap setelah bon di warung Bu Wagimun tetangganya.

Begitulah keluarga mang Kobet mempunyai irama rutin mingguan. Sabtu kantong baju penuh kertas rupiah berwarna merah dan biru. Minggu wajah semua anggota keluarga berseri-seri sumringah.Senin wajah isterinya masih berseri dihias senyum ketika menyambut Mang Kobet pulang kerja.Hari selasa kening Mang Kobet mulai berkerut menahan rasa sakit di pinggang ketika pulang kerja.Hari Rabu wajah mang Kobet kembali bersemangat setelah minum obat penghilang rasa sakit yang dibeli isterinya dari warung obat herbal Wak Haji Katijo.Hari Kamis isterinya mulai mengurangi jatah makan enak keluarga.Hari jum’at pagi dapur rumah Mang Kobet tidak berasap kecuali setelah isterinya bon sayur-sayuran dan beberapa bungkus tempe sebagai lauk faforit keluarga.

Sabtu ,hari yang ditunggu-tunggu Mang Kobet dengan penuh kesabaran.Hari yang diharap menyelamatkan dirinya dari tanggungan beban emosi yang ditahan.Hari di mana ia melaksanakan sebuah rencana besar untuk menghentikan penjarahan di rumahnya.Maka setelah tapak tangannya menerima uang gajinya sebagai pemanen sawit  ia tidak segera pulang menuju rumahnya,melainkan mampir ke toko alat-alat pertanian.Pemilik toko tersebut kenal baik Mang Kobet.Dulu ia dan mang Kobet sekolah di SD yang sama.Bisa dikatakan keduanya merupakan teman akrab yang sangat dekat.Bedanya Mang Kobet dilahirkan dari keluarga miskin.Bapaknya kuli,ibunya tukang cuci.Sedangkan temannya itu anak pedagang kaya.Toko saprotan itu pun merupakan salah satu warisan bapaknya yang semasa hidupnya mempunyai sepuluh toko yang menjual berbagai kebutuhan.

 “Ada racun tikus,Lik?”tanya Mang Kobet kepada temannya si pemilik toko saprotan.

“Hai Bet ..!ke mana saja kau selama ini?! “seru Kelik bergegas menghampiri teman lamanya itu kemudian menyalaminya dengan erat.”Sini.....sini ...duduk dulu di sini..”,lanjutnya dengan ramah sambil memegang tangan temannya tersebut.

”Aku nggak bisa lama-lama,Lik.Aku belum pulang ke rumah.Dari tempat kerja aku tadi langsung ke sini.Isteriku mungkin sudah menantikan aku pulang ”.

“Aaahh sayang sekali..Sebenarnya aku ingin ngobrol denganmu.Sudah lama kita tak bermain catur,kan?” kata Kelik yang punya toko itu dengan nada kecewa.

“Ah..,main caturnya lain kali aja,ya?!.Sekarang aku lagi pusing ..,banyak tikus di rumahku.Ada racun tikus yang manjur nggak ?”kata Mang Kobet mengulangi pertanyaannya. “Ada....,ada...! Butuh berapa ?” jawab Kelik sambil melangkah ke rak obat-obat pertanian.“Satu pak”,jawab Mang Kobet cepat,”Berapa?”lanjutnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku bajunya.

“Lima puluh ribu rupiah aja”,jawab Kelik sambil menyodorkan racun tikus dalam plastik.Mang Kobet mengulurkan tangannya menerima bungkusan tersebut,lalu membayar harganya tanpa menawar-nawar lagi.

“Dah,aku pulang dulu”,kata Mang Kobet  sambil buru-buru melangkah meninggalkan toko .”Lho kok buru-buru nian?”tanya Kelik kepada temannya tersebut.

“Aku sudah tak sabar melihat tikus-tikus di rumahku musnah bergelimpangan”, kata Mang Kobet sambil berlalu.Kelik geleng-geleng kepala melihat roman wajah temannya itu yang nampak begitu geram penuh dendam.”Eh,hati-hati menggunakan racun tikus itu !! Ikuti petunjuk penggunaan yang tercantum dalam bungkusnya!” Kelik berseru memperingatkan temannya.

“Ya...ya!”jawab Mang Kobet  sambil mempercepat kakinya  melangkah menuju rumahnya.Tak sabar lagi hatinya ingin segera sampai di rumah dan menggelar perang besar .....melawan tikus-tikus di rumahnya yang sudah menjarah rezeki serta menginjak-injak martabat kemanusiaannya.

Tak lama kemudian Mang Kobet sampai di rumah,ia segera masuk.Dilihatnya rumahnya sepi,terdengar dari dapur suara isterinya sedang memasak sayur yang ia bon dari warung wak Ting-ting satu jam sebelumnya.Diletakkannya tas kain yang biasa ia sandang untuk membawa alat-alat kerja.Diambilnya bungkusan racun tikus yang dibelinya.Isterinya datang dari dapur sambil tangannya mengusap-usapkan tangan yang kotor ke kain celemek yang terikat di pinggangnya.

“Sudah pulang,Pak ?”katanya dengan muka berseri-seri menyambut sang suami pulang kerja.Hatinya penuh harapan,bahwa suaminya tersebut sakunya penuh uang hasil kerja minggu ini. “ Ya,Bu.Ini uang belanja minggu ini”,jawab Mang Kobet tanggap sambil tangannya menyerahkan segenggam uang kepada isterinya tersebut.

Isteri Mang Kobet mengulurkan tangannya menerima uang yang diberikan suaminya.Menghitungnya sebentar.Hanya sekilas matanya menangkap bungkusan yang diletakkan suaminya di meja.Penasaran hatinya ia bertanya:

“Bungkusan apa itu ,Pak?” .

“Racun tikus”.

“Ooo.....”.

Isteri Mang Kobet ingat sayur yang ia masak tadi.Bergegas ia melangkah menuju dapur kemudian lelap kembali dalam kesibukan dapur.Ditinggalkan suaminya dalam keadaan masih menimang-nimang bungkusan racun tikus di tangan kanannya.Kelihatannya Mang Kobet ragu menggunakan racun tersebut .Sebersit rasa khawatir melintas cepat di hatinya.

Beberapa kali Mang Kobet menghela napas.Diusahakannya hatinya mantap,dikumpulkannya azzam yang kuat hendak menggunakan racun tikus dalam bungkusan plastik di tangannya itu untuk membasmi tikus-tikus keparat di rumahnya.Dibukanya plastik pembungkus racun ,lalu kakinya melangkah pelan.Kepalanya dipenuhi dendam.Berpikir ia,”Di manakah aku harus meletakkan racun-racun ini ?”Diputar-putarnya pandangan matanya menyapu beberapa tempat di rumahnya.

Tak berapa lama nampak Mang Kobet meletakkan racun tikus.Di atas lemari makan satu potong.Di dekat sumur  sepotong.Di plafon teras rumah 2 potong.Di plafon ruang tengah dan di dapur.Maka jadilah seluruh bagian rumah dipenuhi racun tikus.Sisa racun disimpannya dalam tas kain yang biasa ia bawa kerja.Hatinya optimis racun-racun tersebut akan bekerja sesuai harapan.

“Heh,makan tu racun !”bisik Mang Kobet lirih penuh kebencian sambil matanya melirik ke plafon rumahnya yang bergedubrak karena tikus-tikus yang berlarian saling berkejaran.Tiba-tiba saja perutnya berbunyi.Tersadar ia,dari sepulang kerja tadi ia belum mengisinya. Bergegas ia melangkah menuju dapur lalu makan nasi dengan sayur yang dimasak isterinya.

***

Sudah sehari semalam sejak Mang Kobet memasang racun-racun tikus yang berbentuk kubus di seluruh bagian penting rumahnya.Nampaknya perang dimenangkannya dengan penuh sukses.Tanda-tandanya sangat jelas.Bunyi kedubrak di plafon rumahnya sudah tak kedengaran lagi.Pagi hari berikutnya seekor tikus yang sudah mati kaku ditemukan oleh anak gadisnya di saluran air pembuangan di belakang WC.Satu lagi di dapur di dekat tungku tempat isterinya masak.Mang Kobet sendiri menemukan seekor bangkai tikus yang mulutnya berbuih di dekat kandang ayam.Segera bangkai-bangkai itu dikumpulkannya.Lega hatinya,rumahnya telah bersih dari aktivitas tikus-tikus penjarah.”Hm..Benar-benar ampuh racun tikus dari toko Kelik itu. Mestinya para koruptor yang menjarah kekayaan  negeri ini tak usah ditangkap ,cukup di kasih umpan racun tikus biar mampus.Pak polisi, pak jaksa dan pak hakim di negeri ini tak perlu lagi susah payah menangkap teman-temannya,karena siapa yang korupsi pasti akan mati sendiri segera setelah menelan racun tikus yang diumpankan kepada mereka,he....he....he...”,gumam Mang Kobet sambil tangannya menenteng tiga ekor tikus untuk dibuang jauh-jauh di kebun belakang rumahnya.

Empat hari sudah keluarga Mang Kobet menikmati ketenangan.Hanya saja pada jam-jam sore menjelang maghrib sampai menjelang subuh di rumahnya tercium bau bangkai.Mula-mula tidak terlalu tercium,lama-lama semakin malam semakin menyengat.Membuat dada penghuni rumah terasa sesak.”Maak...,bau bangkai...!”anaknya berucap sambil memencet hidungnya yang mungil pesek itu.”Iya,gimana ini Pak?”kata isteri Mang Kobet,”Apa ada bangkai tikus yang mati kena racun di plafon rumah kita?”lanjutnya bertanya.”Dasar tikus sialan..!! Mati saja meninggalkan persoalan....mirip para koruptor di negeri ini yang ketika mati memaksa para hakim dan jaksa menutup kasusnya.Sementara kerugian negara tak dihiraukan lagi”,gerutu Mang Kobet jengkel.

Maka dengan penuh kejengkelan Mang Kobet melakukan operasi pembersihan plafon.Dengan tangga pinjaman ia naik ke plafon melalui lubang tingkap di ruang tengah.Sambil menutup hidung ia melongokkan kepalanya.Mengedarkan pandangan ke seluruh bagian dalam plafon.Gelap.

“Senter...! Tolong ambilkan senter..!” seru Mang Kobet kepada isterinya.Bergegas isterinya mengambil senter lalu menjulurkan tangan memberikan senter tersebut kepada suaminya yang berdiri di anak tangga.Dengan cepat Mang Kobet menerima senter tersebut lalu kembali melongokkan kepalanya.Senter dinyalakan.Pandangan mata Mang Kobet menyapu seluruh bagian plafon.Nyala lampu senter sangat terang menggalahkan kegelapan plafon.Aneh...! Tak sedikit pun nampak bangkai tikus di sana.Diulangi lagi dengan teliti.Diarah-arahkannya cahaya senter ke seluruh bagian plafon.Tak ada.

“Tak ada apa-apa tu bu !”kata mang Kobet penasaran.Tangan dan kepalanya masih di lubang plafon.Harapannya belum pupus.Matanya masih berusaha menangkap bayangan bangkai tikus.”Mungkin di plafon dapur,Pak ?!Coba ditengok plafon dapur!”Isterinya berkata  sambil memegangi tangga  sementara Mang Kobet turun.”Mungkin juga,bu”,katanya lirih seperti menggumam.”Coba kita tengok”,lanjut Mang Kobet sambil mengangkat tangga dan membawanya ke dapur.Sesampainya di dapur segera saja ia naik tangga tersebut kemudian melepas  tingkap plafon lalu melongokkan kepalanya ke plafon di atas dapurnya.Disapunya bagian plafon yang gelap tersebut dengan seksama.Nyala senter di arahkan menyapu ruang plafon tersebut.Aneh...!Tak ada onggokan bangkai tikus yang terlihat.”Tak ada apa-apa ,bu”,kata Mang Kobet turun dari tangga.”Masak nggak ada Pak ?” isterinya bertanya penasaran.”Ya,sudahlah yang penting tak ada lagi tikus di rumah kita”,jawab Mang Kobet sambil mengangkat tangga pinjaman itu untuk dikembalikan kepada tetangganya.”Tapi ,Pak.Baunya bukan main”,kata isterinya setengah protes.”Ya,ditahan-tahan dululah!Sebentar juga akan hilang,sama seperti berita-berita korupsi di negeri kita ini.Sebentar heboh,tak lama kemudian reda dan dilupakan” Kata Mang Kobet sambil mamanggul tangga kakinya melangkah keluar dapur rumah menuju rumah tetangganya dengan meninggalkan isterinya yang masih menutup hidung mengikutinya keluar.

Usai mengembalikan tangga yang ia pinjam,Mang Kobet tidak masuk ke rumahnya,melainkan melangkah menuju kandang ayam jagonya.Dibukanya kandang. Kelihatannya si Jago tahu kesenangan majikannya .Begitu kandang terbuka ia langsung mengepakkan sayap lalu berkokok panjang.Tangan Mang Kobet menjulur meraih tubuh ayamnya tersebut,lalu menimang-nimangnya.Sungguh pemandangan yang sangat serasi antara majikan dan peliharaan.Kelihatannya mereka berdua saling menyukai.Mang Kobet memperlakukan ayam jagonya seperti perlakuannya terhadap anaknya sendiri.Sering anak dan isterinya merasa cemburu dengan ayam jago tersebut.”Pak ayam jagonya dijual saja ! Kemarin Pak Jaksa ke sini lagi menanyakan ayam tersebut kalau benar mau dijual biar beliau saja yang membeli.Katanya,beliau berani membayar sejuta lima ratus kontan,lho !” Kata Isteri Mang Kobet membujuk.

“Aaah,ayam ini tidak kujual”,kata Mang Kobet tegas.Ayam jago itu kelihatannya memahami,bahwa dirinya sangat dihargai dan disayangi oleh majikannya.Dikepakkan sayapnya,lalu berkokok panjang. ”Nah lihat si Jago ,kokoknya yang panjang itu unik,bukan ?” kata Mang Kobet memuji ayam jagonya itu.Dijetik-jetikkannya jari-jari tangannya.Ayam tersebut membalas dengan bergerak merendahkan satu sayap lalu ditangkap ditimang-timang.”Ah Bapak ini keterlaluan...,kokok Si Jago tak bisa dimakan.Tak juga ia bertelur.Lebih baik ia kita jual bisa menambah belanja kebutuhan dapur kita.Atau Mungkin kita bisa pakai untuk DP kredit motor”,kata isterinya setengah dongkol.Mang Kobet tak menggubris perkataan isterinya.Ia asyik bermain-main dengan si Jago,”Pokoknya si Jago ini tak akan kujual,berapapun orang menawar.Ia membawa keberuntungan kita”,katanya sambil menangkap si Jago ,lalu memasukkan ke dalam kandangnya lagi.”Kukuruyuuuu.......kk!!”

Begitulah,jika seseorang mempunyai kesukaan maka apapun akan dilakukan untuk mendapatkan kesukaan tersebut.Kadangkala dengan mengorbankan orang lain,tak peduli apakah orang lain tersebut menderita karena kesukaannya.Seperti perokok yang kalau sedang bersenang-senang dengan rokoknya,tak peduli orang lain batuk-batuk karena asap rokoknya.Tak peduli  asap rokoknya mencemari udara dan membuat pengap kabin bus kota,yang penting baginya happy.Persetan dengan orang lain....!

Esok paginya orang satu RT mencium bau bangkai.Banyak orang mual-mual lalu muntah.Begitu menyengatnya bau bangkai menyebar bagaikan wabah.Menyerang hidung-hidung warga.Menyebabkan sesak napas hingga tersengal-sengal.Hanya sekarang tak lagi nampak bangkai tikusnya.Mang Kobet tak terlalu peduli.Asal si Jago masih berkokok di kandangnya,baginya bau busuk tersebut tercium seperti bau parfum,haruum....ah..!Tak peduli tetangga-tetangganya kelabakan kebingungan.Hanya ada yang aneh terjadi di rumah Mang Kobet pagi itu.Anak gadisnya,ketika bermain-main dengan teman-temannya di kebun belakang rumah,menemukan seonggok bangkai ayam yang kulit muka dan jenggernya membiru.Sementara di samping bangkai ayam tersebut terdapat seonggok bangkai tikus bertumpuk-tumpuk yang sudah berbelatung.Menjijikkan......ih..!

Anak gadis Mang Kobet segera berlari ke rumah,sementara teman-teman bermainnya pada bubar berlarian ke sana kemari tak keruan.”Pak.......,paak...Ayamnya matii..! ayamnya mati..!”teriaknya panik.Mang Kobet yang baru saja selesai sarapan dan bersiap-siap mau berangkat kerja nampak santai-santai saja.Sambil menghisap rokok “tingwe” ia bertanya dengan nada datar setengah tak peduli,”Ayam apa....?Si Jago kan di kandangnya”.Anak gadisnya bersikeras berkata,”Itu si Jago,Pak! Ia mati.Di sebelahnya ada bangkai tikus berbelatung.Coba Bapak tengok sendiri di belakang sana!”sambil berkata demikian ia memegang dan menarik lengan bapaknya yang masih santai dengan mulut mengepul-ngepulkan asap rokok yang baru saja dinyalakannya usai sarapan tadi.Terpaksa Mang Kobet mengikuti langkah anak gadisnya tersebut menuju kebun belakang rumah.Isterinya yang penasaran ikut melangkah mengikuti mereka berdua dari belakang.

“Oalah Pak itu benar si Jago ayam kita!”Isteri Mang Kobet berseru setelah melihat dengan cermat onggokan bangkai ayam di depannya.Mata Mang Kobet membelalak setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.Lemas tubuh Mang Kobet mengetahui bahwa bangkai ayam di samping bangkai tikus berbelatung itu benar-benar si Jago ayam kesayangannya.Sejenak ia termangu memandangi si Jago yang tergeletak dengan jengger dan mukanya biru.Matanya nanar sebentar memandangi si Jago sebentar berikutnya memandangi bangkai tikus.Isterinya berdiri di samping Mang Kobet yang jongkok .Pupus sudah kesempatan mendapatkan uang seratus juta.Semalam rumahnya kedatangan tamu utusan orang penting  yang menawar ayamnya seharga seratus juta.Orang tersebut sedang mencari seekor ayam jago yang istimewa kokoknya untuk tumbal agar ia menang dalam pemilu bulan depan dan dikukuhkan sebagai anggota DPR.Meskipun sebenarnya itu uang pelicin agar para buruh dodos di perkebunan sawit semua memilih orang tersebut.Bukankah Mang Kobet ketua buruh dodos yang anggotanya ratusan ribu tersebar di seluruh wilayah kabupaten ?? Ooooh..........

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APRESIASI SASTRA DAN GORESAN PENA